$show=home

101 Alasan Belajar Bahasa Arab

Untuk tulisan kali ini saya ingin membentuknya menjadi point demi point untuk menjawab pertanyaan kebanyakan pengunjung blog ini, 'Mengapa Saya Harus Belajar Bahasa Arab?"

1. Keutamaan bahasa Arab amatlah jelas karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an Al-Karim.

Dalam Al-Quran terdapat 11 ayat yang menyatakan bahwa Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab, yakni dalam surat Yusuf : 2 ; Ar-Ra’du : 37; An-Nahl : 103; Thaha : 103; Asy-Syu’ara : 195; Az-Zumar : 28; Fushshilat : 3 & 44; Asy-Syura : 7; Az-Zukhruf : 3; Al-Ahqaf : 12.

Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran. Allah berfirman:

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami telah menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kalian memahaminya.Surat Yusuf : 2 [3]

Cukup alasan inilah yang jadi alasan besar kenapa kita harus mempelajari bahasa Arab. Keistimewaan bahasa Arab disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari sepuluh tempat, di antaranya pada ayat,

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ . قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 27-28)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

اللِّسَانُ العَرَبِي شِعَارُ الإِسْلاَمِ وَأَهْلِهِ

“Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan syi’ar kaum muslimin.” Disebutkan dalam Iqtidha’ Shirath Al-Mustaqim.

Bahasa Arab adalah bahasa Nabi Muhammad dan bahasa verbal para sahabat. Hadits-hadits Nabi yang sampai kepada kita dengan berbahasa Arab. Demikian juga kitab-kitab fikih, tertulis dengan bahasa ini. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab menjadi pintu gerbang dalam memahaminya.

Bayangkan bisa membaca dan memahami kata-kata dari Nabi SAW tercinta langsung dalam bahasa Arab. Dengan belajar Bahasa Arab, berarti Anda akan dapat memahami hadits Nabi SAW tanpa perlu mengandalkan terjemahan.

2. Dengan mempelajari bahasa Arab lebih mudah dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Qur’an.

Dengan modal bahasa Arab akan mudah pula dalam memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkan, menjelaskan serta mengamalkannya.

Orang yang paham bahasa Arab, terutama paham kaedah-kaedah dalam ilmu nahwu akan semakin mudah memahami Islam daripada yang tidak mempelajarinya sama sekali.

Apalagi jika tugas seseorang sebagai penyampai dakwah, menjadi seorang da’i, kyai atau ustadz, tentu lebih urgent lagi mempelajarinya agar mudah memberikan pemahaman agama yang benar pada orang banyak.

Orang yang paham bahasa Arab akan mudah menggali ilmu dari ulama secara langsung atau membaca berbagai karya ulama yang sudah banyak tersebar hingga saat ini.

Sedangkan yang tidak paham bahasa Arab hanya bisa mengandalkan kitab terjemahan dan itu sifatnya terbatas.

Jika seseorang yang kita cintai mengirimkan surat dalam bahasa asing, kita akan terburu-buru untuk mencari tahu apa yang tertulis di dalamnya. Memang sudah ada terjemahan, tetapi makna sebenarnya hanya akan dipahami dalam bahasa aslinya. Bahasa Arab digunakan dalam Al-Qur’an karena kaya dan penuh makna.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan tentang hukum mempelajari bahasa Arab,

وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

“Dan juga perlu dipahami bahwa bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama. Mempelajarinya adalah fardhu wajib. Karena untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib. Memahaminya tidaklah bisa kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sedangkan kaedah menyatakan, ‘Sesuatu yang wajib yang tidak bisa terpenuhi kecuali dengannya, maka itu dihukumi wajib.’ Kemudian untuk mempelajarinya tadi, ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah.” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527)

Ada beberapa riwayat yang juga dibawakan oleh Ibnu Taimiyah.

Diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Abi Syaibah, ‘Umar pernah menulis pada Abu Musa,

أما بعد: فتفقهوا في السنة ، وتفقهوا في العربية وأعربوا القرآن، فإنه عربي

“Pelajarilah As-Sunnah dan pelajarilah bahasa Arab, serta i’rablah Al-Qur’an. Ingatlah Al-Qur’an itu dengan bahasa Arab.”

‘Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata,

تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم

“Pelajarilah bahasa Arab karena ia bagian dari agama kalian. Pelajarilah hukum waris, ia juga bagian dari agama kalian.”

Mempelajari bahasa Arab -kata Ibnu Taimiyah- bertujuan agar faqih dalam ucapan. Sedangkan menurut beliau, mempelajari sunnah Nabi bertujuan supaya faqih dalam amalan. Sedangkan dalam diin itu terdiri dari ucapan dan amalan. Lihat bahasan Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527-528.

Sebagaimana yang telah menjadi keyakinan dalam diri kita bahwa jalan yang memberi kita jaminan keselamatan dan kenikmatan Islam adalah satu dan tidak berbilang-bilang. Jalan tersebut yaitu mengilmui dan mengamalkan ajaran Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dipahami oleh para sahabatnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku tinggalkan sesuatu bersama kalian, jika kamu berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ 2/899) [1]

Dan Allah Ta’ala telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa terbaik yang pernah ada. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.” (QS. Yusuf [12]: 2)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,

”Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas, dan paling banyak pengungkapan makna yang dapat menenangkan jiwa. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia ini (yaitu Al-Qur’an, pen.) diturunkan dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa Arab, pen.).” [2]

Oleh karena itu tidak perlu diragukan lagi, memang sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Hal ini ditegaskan oleh firman Allah Ta’ala,

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192( نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194( بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195(

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Pencipta Semesta Alam,  dia dibawa turun oleh Ar-ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 192-195)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,

”Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Bahasa Rasul yang diutus kepada mereka dan menyampaikan dakwahnya dalam bahasa itu pula. Bahasa yang jelas dan gamblang. Dan renungkanlah bagaimana berkumpulnya keutamaan-keutamaan yang baik ini. Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan melalui malaikat yang paling utama, diturunkan kepada manusia yang paling utama pula, dimasukkan ke dalam bagian tubuh yang paling utama, yaitu hati, untuk disampaikan kepada umat yang paling utama, dengan bahasa yang paling utama dan paling fasih yaitu bahasa Arab yang jelas.” [3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab. Maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah Ta’ala dan menegakkan syiar-syiar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” [4]

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama. Hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib, dan keduanya tidaklah bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah di dalam ilmu ushul fiqh: sebuah kewajiban yang tidak akan sempurna (pelaksanaannya) kecuali dengan melakukan sesuatu (yang lain), maka sesuatu yang lain tersebut hukumnya juga menjadi wajib. Namun di sana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah.” [5]

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,

فعلى كل مسلم أن يتعلم من لسان العرب ما بلغه جهده حتى يشهد به أن لا إله إلا الله وأنمحمد عبده ورسوله ويتلوا به كتاب الله

“Maka wajib atas setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sekuat kemampuannya. Sehingga dia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan dengannya dia bisa membaca kitabullah … “ [6]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa agama Islam dan bahasa Al-Qur’an. Kita tidak akan bisa memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar dan selamat (dari penyelewengan) kecuali dengan bekal bahasa Arab. Menyepelekan dan menggampangkan bahasa Arab akan mengakibatkan lemah dalam memahami agama serta jahil (bodoh) terhadap berbagai permasalahan agama.

Imam Syafi’i berkata: “Manusia tidak menjadi bodoh dan selalu berselisih paham kecuali lantaran mereka meninggalkan bahasa Arab, dan lebih mengutamakan konsep Aristoteles”. [2]

Itulah ungkapan Imam Syafi’i buat umat, agar kita jangan memarginalkan bahasa kebanggaan umat Islam. Seandainya sang imam menyaksikan kondisi umat sekarang ini terhadap bahasa Arab, tentulah keprihatian beliau akan semakin memuncak.

Bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lain yang menjadi alat komunikasi di kalangan umat manusia. Ragam keunggulan bahasa Arab begitu banyak. Idealnya, umat Islam mencurahkan perhatiannya terhadap bahasa ini. Baik dengan mempelajarinya untuk diri mereka sendiri ataupun memfasilitasi dan mengarahkan anak-anak untuk tujuan tersebut.

Di masa lampau, bahasa Arab sangat mendapatkan tempat di hati kaum muslimin. Ulama dan bahkan para khalifah tidak melihatnya dengan sebelah mata. Fashahah (kebenaran dalam berbahasa) dan ketajaman lidah dalam berbahasa menjadi salah satu indikasi keberhasilan orang tua dalam mendidik anaknya saat masa kecil.

Redupnya pehatian terhadap bahasa Arab nampak ketika penyebaran Islam sudah memasuki negara-negara ‘ajam (non Arab). Antar ras saling berinteraksi dan bersatu di bawah payung Islam. Kesalahan ejaan semakin dominan dalam perbincangan. Apalagi bila dicermati realita umat Islam sekarang pada umumnya, banyak yang menganaktirikan bahasa Arab. Yang cukup memprihatinkan ternyata, para orang tua kurang mendorong anak-anaknya agar dapat menekuni bahasa Arab.

3. Bahasa Arab itu bahasa yang lembut dan lebih mengenakkan hati, serta menentramkan jiwa.

Ibnu Katsir saat menjelaskan surat Yusuf ayat kedua menyatakan,

لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس

“Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas (kosakatanya), dan paling banyak mengandung makna yang menentramkan jiwa.”

Susunan kata bahasa Arab tidak banyak. Kebanyakan terdiri atas susunan tiga huruf saja. Ini akan mempermudah pemahaman dan pengucapannya.

Indahnya kosa kata Arab. Orang yang mencermati ungkapan dan kalimat dalam bahasa Arab, ia akan merasakan sebuah ungkapan yang indah dan gamblang, tersusun dengan kata-kata yang ringkas dan padat.

4. Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia.

Bahasa Arab adalah bahasa paling mulia dan tertua yang masih digunakan sampai saat ini. Bahasa yang digunakan oleh para Nabi dan kelak akan digunakan oleh penghuni Surga. Belajar bahasa arab sangatlah penting, terutama bagi seorang muslim karena Kitab Suci Al Qur'an dan Hadist Nabi yang menjadi rujukan bagi setiap muslim dalam menjalankan ibadah -bahkan kehidupan sehari-hari- menggunakan bahasa arab.

Inilah alasan utama untuk pertanyaan Mengapa bahasa ini tetap hidup lebih dari ratusan tahun sementara bahasa yang lain tidak? adalah bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur'an, inilah yang menjaga bahasa Arab menjadi bahasa utama hingga lebih dari 1400 tahun peradaban Islam. Bahkan ada ulama yang mewajibkan belajar bahasa arab bagi seorang muslim. Bagaimana kita bisa memahami kitab inti dari agama ini jika tidak mengerti bahasa arab sama sekali?

Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan,

فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه

“Karena Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan pada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang mulia yaitu bulan Ramadhan. Dari berbagai sisi itu, kita bisa menilai bagaimanakah mulianya kitab suci Al-Qur’an.”

Oleh karena itu Allah nyatakan tentang bahasa Arab,

إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)

5. Bahasa Arab adalah bahasa yang lurus, mudah dipahami dan mudah digunakan sebagai hukum bagi manusia.

Allah menyatakan sendiri,

قُرْآَنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 28)

Dalam ayat lain disebutkan,

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)

“Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195). Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi, Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yaitu bahasanya orang Quraisy yang setiap orang mudah memahaminya.

Juga dalam ayat lain disebutkan,

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا

“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.” (QS. Ar-Ra’du: 37). Disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain, bahasa Arab digunakan sebagai hukum di tengah-tengah manusia. Dalam Zaad Al-Masiir disebutkan bahwa bahasa Arab bisa digunakan untuk menerangkan hukum-hukum yang wajib.

Masih tak tergerak hati Anda untuk mempelajari bahasa yang paling mulia dan dicintai oleh Allah?

6. Teguran Keras Terhadap Kekeliruan Dalam Berbahasa.

Berbahasa yang baik dan benar sudah menjadi tradisi generasi Salaf. Oleh karena itu, kekeliruan dalam pengucapan ataupun ungkapan yang tidak seirama dengan kaidah bakunya dianggap sebagai cacat, yang mengurangi martabat di mata orang banyak. Apalagi bila hal itu terjadi pada orang yang terpandang. Ibnul Anbari menyatakan: “Bagaimana mungkin perkataan yang keliru dianggap baik…? Bangsa Arab sangat menyukai orang yang berbahasa baik dan benar, memandang orang-orang yang keliru dengan sebelah mata dan menyingkirkan mereka”.

Umar bin Khaththab pernah mengomentari cara memanah beberapa orang dengan berucap: “Alangkah buruk bidikan panah kalian”. Mereka menjawab,” قَوْمٌ مُتَعَلِّمِيْنَ نَحْنُ (kami adalah para pemula), [4]” maka Umar berkata, ”Kesalahan berbahasa kalian lebih fatal menurutku daripada buruknya didikan kalian… “[5]

7. Perhatian Salaf Terhadap Bahasa Arab.

Umar bin Khaththab pernah menulis surat kepada Abu Musa yang berisi pesan: “Amma ba’du, pahamilah sunnah dan pelajarilah bahasa Arab”.

Pada kesempatan lain, beliau mengatakan: “Semoga Allah merahmati orang yang meluruskan lisannya (dengan belajar bahasa Arab)”.

Pada kesempatan lain lagi, beliau menyatakan: “Pelajarilah agama, dan ibadah yang baik, serta mendalami bahasa Arab”.

Beliau juga mengatakan: “Pelajarilah bahasa Arab, sebab ia mampu menguatkan akal dan menambah kehormatan”. [6]

Para ulama tidak mengecilkan arti bahasa Arab. Mereka tetap memberikan perhatian yang besar dalam menekuninya, layaknya ilmu syar’i lainnya. Sebab bahasa Arab adalah perangkat dan sarana untuk memahami ilmu syariat.

Imam Syafi’i pernah berkata: “Aku tinggal di pedesaan selama dua puluh tahun. Aku pelajari syair-syair dan bahasa mereka. Aku menghafal Al Qur’an. Tidak pernah ada satu kata yang terlewatkan olehku, kecuali aku memahami maknanya”.

Imam Syafi’i telah mencapai puncak dalam penguasaan bahasa Arab, sehingga dijuluki sebagai orang Quraisy yang paling fasih pada masanya. Dia termasuk yang menjadi rujukan bahasa Arab.

Ibnul Qayyim juga dikenal memiliki perhatian yang kuat terhadap bahasa Arab. Beliau belajar kepada Ibnul Fathi Al Ba’li kitab Al Mulakhkhash karya Abul Baqa`, Al Jurjaniyah, Alfiyah Ibni Malik, Al Kafiyah Asy Syafiah dan At Tashil. Beliau juga belajar dari Ali bin Majd At Tusi.

Ulama lain yang terkenal memiliki perhatian yang besar terhadap bahasa Arab adalah Imam Syaukani. Ulama ini menimba ilmu nahwu dan sharaf dari tiga ulama sekaligus, yaitu : Sayyid Isma’il bin Al Hasan, Allamah Abdullah bin Ismail An Nahmi, dan Allamah Qasim bin Muhammad Al Khaulani.

8. Anak-Anak Khalifah Juga Belajar Bahasa Arab.

Para khalifah, dahulu juga memberikan perhatian besar terhadap bahasa Arab. Selain mengajarkan pada anak-anak dengan ilmu-ilmu agama, mereka juga memberikan jadwal khusus untuk memperdalam bahasa Arab dan sastranya. Motivasi mereka, lantaran mengetahui nilai positif bahasa Arab terhadap gaya ucapan mereka, penanaman budi pekerti, perbaikan ungkapan dalam berbicara, modal dasar mempelajari Islam dari referensinya. Oleh karena itu, ulama bahasa Arab juga memiliki kedudukan dalam pemerintahan dan dekat dengan para khalifah. Para pakar bahasa menjadi guru untuk anak-anak khalifah.

Al Ahmar An Nahwi berkata,”Aku diperintahkan Ar Rasyid untuk mengajarkan sastra Arab kepada anaknya, Muhammad Al Amin. Al Makmun dan Al Amin juga pernah dididik pakar bahasa yang bernama Abul Hasan ‘Ali bin Hamzah Al Kisai yang menjadi orang dekat Khalifah. Demikian juga pakar bahasa lain yang dikenal dengan Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin As Sari mengajari anak-anak Khalifah Al Mu’tadhid pelajaran bahasa Arab. Juga Abu Qadim Abu Ja’far Muhammad bin Qadim mengajari Al Mu’taz sebelum memegang tampuk pemerintahan”.

9. Mempermudah Penguasaan Terhadap Ilmu Pengetahuan.

Islam sangat menekankan pentingnya aspek pengetahuan melalui membaca. Allah berfirman.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Bacalah dengan nama Rabb-mu yang menciptakan. [Al ‘Alaq : 1].

Melalui bahasa Arab, orang dapat meraih ilmu pengetahuan. Sebab bahasa Arab telah menjadi sarana mentransfer pengetahuan.

Bukti konkretnya, banyak ulama yang mengabadikan berbagai disiplin ilmu dalam bait-bait syair yang lebih dikenal dengan nazham (manzhumah atau nazhaman). Dengan ini, seseorang akan relatif lebih mudah mempelajarinya, lantaran tertarik pada keindahan susunannya, dan menjadi keharusan untuk menghafalnya bagi orang yang ingin benar-benar menguasainya dengan baik.

Sebagai contoh, kitab Asy Syathibiyah Fi Al Qiraati As Sab’i Al Mutawatirati ‘Anil Aimmati Al Qurrai As Sab’ah, adalah matan syair yang berisi pelajaran qiraah sab’ah, karangan Imam Al Qasim bin Firah Asy Syathibi. Buku lain berbentuk untaian bait syair. Kemudian Al Jazariyah, yaitu buku tentang tajwid karya Imam Muhammad bin Muhammad Al Jazari. Dalam bidang ilmu musthalah hadits, ada kitab Manzhumah Al Baiquniyah, karya Syaikh Thaha bin Muhammad Al Baiquni. Dan masih banyak contoh lainnya.

10. Meningkatkan Ketajaman Daya Pikir.

Dalam hal ini, Umar bin Khaththab berkata,”Pelajarilah bahasa Arab. Sesungguhnya ia dapat menguatkan akal dan menambah kehormatan.”

Pengkajian bahasa Arab akan meningkatkan daya pikir seseorang, lantaran di dalam bahasa Arab terdapat susunan bahasa indah dan perpaduan yang serasi antar kalimat. Hal itu akan mengundang seseorang untuk mengoptimalkan daya imajinasi. Dan ini salah satu factor yang secara perlahan akan menajamkan kekuatan intelektual seseorang. Pasalnya, seseorang diajak untuk merenungi dan memikirkannya. Renungkanlah firman Allah:

وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa yang menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. [Al Hajj : 31].

Lantaran dahsyatnya bahaya syirik kepada Allah, maka permisalan orang yang melakukannya bagaikan sesuatu yang jatuh dari langit yang langsung disambar burung sehingga terpotong-potong tubuhnya. Demikian perihal orang musyrik, ketika ia meninggalkan keimanan, maka syetan-syetan ramai-ramai menyambarnyanya sehingga terkoyak dari segala sisi, agama dan dunianya, mereka hancurkan. [7]

11. Mempengaruhi Pembinaan Akhlak.

Orang yang menyelami bahasa Arab, akan membuktikan bahwa bahasa ini merupakan sarana untuk membentuk moral luhur dan memangkas perangai kotor.

Berkaitan dengan itu, Ibnu Taimiyah berkata: “Ketahuilah, perhatian terhadap bahasa Arab akan berpengaruh sekali terhadap daya intelektualitas, moral, agama (seseorang) dengan pengaruh yang sangat kuat lagi nyata. Demikian juga akan mempunyai efek positif untuk berusaha meneladani generasi awal umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in dan meniru mereka, akan meningkatkan daya kecerdasan, agama dan etika”. [8]

Misalnya, penggalan syair yang dilantunkan Habib bin Aus yang menganjurkan berperangai dengan akhlak yang baik :

يـَعِيْشُ المْـَرْءُ مَا اسْتَحْيـَا بِخَيْرٍ وَيَبْـقَى العُودُ مَا بَقِيَ اللِّحَاءُ

فَلاَ وَاللهِ مَا فِي العَيْشِ خَيْـــرٌ وَلاَ الدُّنْيـَا إِذَا ذَهَبَ الْحَيَاءُ

Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama ia mempunyai rasa malu
Batang pohon senantiasa abadi, selama kulitnya belum terkelupas
Demi Allah, tidak ada sedikit pun kebaikan dalam kehidupan,
Demikian juga di dunia, bila rasa malu telah hilang sirna

Juga ada untaian syair yang melecut orang agar menjauhi tabiat buruk. Imam Syafi’i mengatakan:

إِذَا رَمَيْتَ أَنْ تَحْيَا سَلِيْمًا مِنَ الرَّدَى وَدِيْنُكَ مَوْفُوْرٌ وَعِرْضُـكَ صَيـِّنُ
فَلاَ يَنْطِقـَنَّ مِنْكَ اللِّساَنُ بِسَـوءَةٍ فَكُلُّــكَ سَوْءَاتٌ وَلِلنَّاسِ أَعْيـُنُ

Bila dirimu ingin hidup dengan bebas dari kebinasaan,
(juga) agamamu utuh dan kehormatanmu terpelihara,
Janganlah lidahmu mengungkit cacat orang,
Tubuhmu sarat dengan aib, dan orang (juga) memiliki lidah.

Jadi, bahasa Arab tetap penting, Bahkan menjadi ciri khas kaum muslimin. Seyogyanya menjadi perhatian kaum muslimin. Dengan memahami bahasa Arab, penguasaan terhadap Al Qur’an dan As Sunnah menjadi lebih mudah. Pada gilirannya, akan mengantarkan orang untuk dapat menghayati nilai-nilainya dan mengamalkannya dalam kehidupan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

[1]. Diangkat dari Al Atsaru At Tarbawiyah Li Dirasati Al Lughah Al ‘Arabiyyah, karya Dr. Khalid bin Hamid Al Hazimi, osen Fakultas Dakwah dan Ushuliddin Universitas Islam Madinah. Majalah Jami’ah Islamiyyah, edisi 125 Th 1424 H.
[2]. Siyaru A’lamin Nubala : 10/74.
[3]. QS Az Zukhruf : 3.
[4]. Seharusnya :
نَحْنُ قَوْمٌ مُتَعَلِّمُوْنَ
[5. Al Malahin, karya Ibnu Duraid Al Azdi, hlm. 72.
[6]. Tarikh Umar bin Khaththab, karya Ibnul Jauzi, 225.
[7]. Tafsir As Sa’di.
[8]. Iqtidha Shiratil Mustaqim, hlm. 204

12. Bahasa Arab di Era Global

Setidaknya ada empat orientasi belajar bahasa Arab di era global ini. Pertama, orientasi religius, yaitu belajar bahsa Arab untuk tujuan memahami dan memahamkan ajaran Islam. Orientasi ini dapat berupa belajar keterampilan presentatif. Kedua, orientasi akademik ilmiah, yaitu belajar bahasa Arab untuk tujuan memahami ilmu dan keterampilan bahasa.

Ketiga, orientasi profesional yaitu belajar bahasa Arab untuk keterampilan profesi, praktis atau pragmatis. Dan keempat, orientasi ideologis dan ekonomis, yaitu belajar bahasa Arab untuk memahami dan menggunakan bahasa Arab sebagai media untuk kepentingan orientalisme atau hegemoni sosial, politik, dan ekonomi.

Bahasa Arab merupakan kunci utama untuk mengetahui pengetahuan dan kebudayaan Islam. Tanpa bahasa Arab ilmu pengetahuan dan literatur Arab sulit untuk dipahami.

Ia menambahkan, selain sebagai bahasa Agama, bahasa Arab merupakan bahasa pemersatu berbagai suku bangsa pada masa jahiliyyah hingga saat ini. Bahkan bahasa Arab juga  sudah menjadi bahasa internasional.

Bahasa Arab bukanlah milik bangsa Arab atau umat Islam saja, tapi milik seluruh umat. Hal ini dapat dilihat dari penggunaanya dalam shalat dan komunikasi antar bangsa. Di samping itu orientasi belajar bahasa Arab itu banyak, tinggal memilih di mana bidang dan kemampuan yang dimiliki.

Jika banyak orang lain yang giat mempelajari bahasa Arab untuk tujuan orientalisme, hegemoni politik dan budaya, sungguh sangat disayangkan jika umat Islam sendiri kurang bersemangat dalam mempelajari bahasa Arab ini.

13. Memahami bahasa Arab menjadikan kita selamat dari syubhat-syubhat dan bid’ah.

Imam Syafi’I rahimahullah berkata, “Tidaklah kebodohan dan perbedaan-perbedaan yang terjadi pada manusia (umat muslim) melainkan karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan mereka lebih memilih bahasa Aristoteles (bahasa orang barat).”

Beliau juga berkata, “Tak seorang pun akan mengetahui jelasnya ilmu-ilmu dalam Al Qur’an selama orang itu tidak mengetahui luasnya bahasa Arab, luasnya cakupannya, luasnya masalah dan tingkatannya dan barangsiapa memahaminya maka dia akan selamat dari terkena syubhat seperti yang terjadi pada orang-orang yang tidak memahaminya”.

As-Suyuti rahimahullah berkata, “Sesungguhnya saya telah menemukan orang-orang sebelum Imam Syafi’I, mereka mengisyaratkan seperti yang saya duga bahwa sebab terjadinya bid’ah adalah tidak memahami bahasa Arab.” Hasan Bashri berkata terhadap orang-orang Ahlu Bid’ah, “Yang menghancurkan mereka adalah ketidaktahuan mereka terhadap bahasa Arab."

14. Paham bahasa Arab adalah salah satu dari sebab-sebab kemudahan.

Bahasa Arab merupakan syi’ar Islam, bagian dari Islam dan bahasa Arab merupakan syi’ar yang paling besar yang dengannya menunjukkan kelebihan mereka.

Kuatnya bahasa Arab merupakan salah satu sebab kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Musthofa Shodiq Arrofi’ berkata, “Tidaklah bahasa suatu kaum itu rendah kecuali mereka akan direndahkan dan kemuliaannya tidaklah menjadikan kekuasaan itu pergi meninggalkan mereka. Oleh karena itu, penjajah asing mewajibkan (bahasa mereka untuk dipelajari) kepada kaum yang mereka jajah.”

Bahasa Arab merupakan sarana terkuat untuk mewujudkan persatuan / hubungan diantara umat muslim. Pada saat mereka bersemangat mengajarkan bahasa Arab guna mewujudkan kedekatannya kepada bahasa Arab, maka akan terwujud keseragaman pada dhahirnya (yaitu dengan bahasanya) sehingga terwujud pula keseragaman di hati mereka, dikarenakan mereka dapat memahami peradaban dan keyakinan beragama yang sama.

Pengajaran bahasa Arab merupakan sarana terpenting guna mewujudkan peradaban Islam dan dengan bahasa akan mengangkat peradaban pemilik bahasa tersebut.

Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan secara luas di planet ini. Bahasa Arab merupakan bahasa utama dari 22 negara, digunakan oleh lebih dari 250 juta orang. Bahasa ini juga merupakan bahasa kedua pada negara-negara Islam karena dianggap sebagai bahasa spiritual Islam - salah satu agama-agama besar dunia (kita membicarakan tentang lebih dari 1 miliar orang!).

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tetap di Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Alasan lain yaitu bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tertua yang hidup di dunia, dan merupakan bahasa asli dari banyak bahasa, bahkan ada teori yang menyatakan bahwa "bahasa Arab merupakan asal dari bahasa-bahasa" dan mereka yang mengadopsi teori ini berlandaskan pada kenyataan bahwa orang Arab dapat melafalkan suara apapun dalam bahasa manapun di dunia dengan mudah, di lain pihak banyak orang-orang bukan-Arab yang kesulitan mengucapkan beberapa huruf Arab yang tidak terdapat dalam bahasa asli mereka (contohnya huruf dhad tidak digunakan dalam bahasa manapun di dunia, dan bahasa Arab sering disebut sebagai bahasa dhad).

Dalam ribuan tahun, sedikit perubahan terjadi pada bahasa ini, dan bahasa ini selalu sesuai pada setiap jaman, menembus berbagai peradaban yang menggunakannya sebagai bahasa asli mereka. Bahkan, bahasa Arab memiliki pengaruh yang besar dalam sebagian besar bahasa yang ada di masa kini. Mungkin, sumbangan bahasa Arab yang paling jelas pada kemanusiaan adalah angka Arab (0,1,2,,3,...), tanpa menyebutkan bahwa banyak kata-kata Arab yang digunakan oleh banyak bahasa pada saat ini (algoritma, sugar, coffee, kopi, alamat, kabar, dan daftar ini terus berkelanjutan....). Mengapa bahasa ini tetap hidup lebih dari ratusan tahun sementara bahasa yang lain tidak? Alasan utama untuk pertanyaan tersebut adalah bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur'an, inilah yang menjaga bahasa Arab menjadi bahasa utama hingga lebih dari 1400 tahun peradaban Islam.

15. Menambah pengetahuan

Manfaat mempelajari bahasa Arab tidak hanya dirasakan umat Islam namun juga dapat dirasakan semua orang. Seseorang dapat menambah pengetahuan dengan mempelajari dan menguasai bahasa asing termasuk bahasa Arab. Bahasa Arab dapat memudahkan seseorang untuk mengetahui perkembangan negara yang menggunakan bahasa Arab. Orang sangat bisa menambah pengetahuan yang mereka miliki dengan mempelajari bahasa Arab, sehingga pengetahuannya dapat dimanfaatkan suatu hari nanti baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain. (baca juga : manfaat belajar bahasa asing)

16.Menggali pemahaman

Dapat memperdalam pemahaman seseorang. Seseorang yang menguasai bahasa asing termasuk bahasa Arab akan bisa menumbuhkan rasa toleransi. Tenggang rasa dan simpati juga dapat muncul karena mempelajari bahasa Arab. Seseorang dapat mengerti dan memahami dengan mudah mengenai hal yang sedang terjadi dalam negara-negara yang menggunakan bahasa Arab.

17. Meningkatkan kapasitas diri

Belajar bahasa asing juga bahasa Arab dapat meningkatkan keterampilan seseorang. Penguasaan bahasa Arab dapat bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas diri seseorang dan memotivasinya untuk terus belajar. Jika sebelumnya seseorang tidak mengenal bahasa Arab kemudian menguasai bahasa Arab maka dia akan terpacu dengan melihat pengembangan kapasitas diri yang dimiliki. (baca juga : manfaat belajar bahasa Jepang)

18. Menambah nilai

Bagi orang yang ingin bekerja dan menempuh pendidikan di negara yang menggunakan bahasa Arab adalah sangat penting. Penguasaan bahasa Arab akan menambah peluang untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan pendidikan di tempat yang diinginkan. Beasiswa juga lebih mudah untuk diperoleh dengan penguasaan bahasa yang luas. Mempelajari bahasa Arab juga bisa dilakukan jika seseorang melakukan perjalanan atau bepergian di negara yang menggunakan bahasa Arab. Orang bisa berkomunikasi dengan penduduk asli secara langsung sehingga bisa mengetahui budaya dan berbagai informasi lainnya.

19. Bisa bahasa Arab membuat kita mudah Membaca, memahami dan menghafal Quran

Bisa bahasa Arab membuat kita mudah Membaca, memahami dan menghafal Quran karena bahasa Arab adalah bahasa Qur’an. Sebagai seorang muslim, tentu kita berharap untuk menguasai bahasa Arab dengan lancar. Agar mudah ketika membaca, memahami dan menghafal Qur’an.

20. Bisa bahasa Arab mempermudah komunikasi saat umroh dan haji

Setiap muslim pasti berharap dapat menunaikan ibadah umroh dan haji bukan? Bagi Loopers yang mau menunaikan umroh, jangan bingung untuk memilih paket umroh di Ihram Asia. Karena Ihram Asia menyediakan banyak paket umroh dari berbagai travel umroh seluruh Indonesia.

Nah… pergi ke tanah suci akan lebih mudah jika kita mengerti bahasa Arab. Karena, selain beribadah dengan menggunakan bahasa Arab, berkomunikasi juga dengan bahasa Arab. Memahami bahasa Arab tentu akan mempermudah kita dalam berkomunikasi di tanah suci

21. Dengan paham bahasa Arab, Kita bisa memahami dan meresapi bacaan zikir dan bacaan shalat.

Konsentrasi dalam shalat akan meningkat ketika kita dapat memahami arti dari bacaannya. Karena bacaan shalat menggunakan Bahasa Arab, maka belajar Bahasa Arab dibutuhkan dalam hal ini.

Ibadah shalat dan dzikir tentu saja menggunakan bahasa Arab bukan? Nah… jika kita bisa bahasa Arab, maka dengan mudah kita bisa memahami dan meresapi bacaan shalat dan bacaan dzikir yang kit abaca. Sehingga, tidak asal baca tanpa paham maknanya.

Nah… tenyata, belajar bahasa Arab itu sangat penting dan banyak manfaatnya kan? Kamu, masih ragu untuk belajar bahasa Arab? Sedangkan manfaatnya begitu banyak. Tentu apa yang kita pelajari dari kebaikan tidak akan pernah sia-sia ya.

22. Bahasa Arab merupakan bahasa yang paling utama, paling jelas dan gamblang.

Allah Ta’ala berfirman:

۝ وَإِنَّهُ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ۝ نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْأَمِيْنُ ۝ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ۝ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِيْنٍ


“Dan sesungguhnya Al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, ia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (Q.S. Asy-Syu’araa: 192-195). Asy-Syaikh Abdurrahman as-Si’diy –semoga Allah merahmatinya- mengatakan: “Dengan bahasa Arab yang jelas; yaitu seutama-utamanya bahasa, dengan bahasa orang yang diutus kepada mereka (Nabi Muhammad), untuk menyampaikan dakwah mereka secara menyeluruh; (bahasa Arab) merupakan bahasa yang nyata lagi jelas.” Penguasaan bahasa Arab dengan baik, akan menjadikan kita mengetahui nilai keutamaan Al-Qur`an, ketinggian derajatnya, memahami sesuai dengan yang diinginkan oleh ayat Al-Qur`an, sehingga kita dapat memahami pula tujuan-tujuan dari syari’at yang mulia ini. Dapatkah ini semua terealisasi pada selain bahasa Arab? Sekali-kali tidak.

23. Karena bahasa Arab merupakan bahasa penutup kenabian.

Sehingga dikatakan oleh Abu Manshur ats-Tsa’alibiy: “Barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala niscaya ia juga mencintai Rasul-Nya Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Barangsiapa mencintai Rasul-Nya yang berasal dari negeri Arab niscaya ia mencintai bangsa Arab. Barangsiapa yang mencintai bangsa Arab niscaya ia mencintai bahasa Arab; yang dengan bahasa tersebut turunlah sebaik-baik kitab yang paling utama  kepada orang-orang ajam (non Arab) dan Arab. Barangsiapa yang mencintai bahasa Arab niscaya ia memfokuskan perhatiannya, terus-menerus mempelajarinya dan memusatkan perhatiannya kepada bahasa tersebut.”[4]

Beliau melanjutkan: “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah kepada Islam, maka akan dilapangkan dadanya kepada keimanan, diberikan sebaik-baik rahasia tersimpan yang ada padanya. Ia juga yakin bahwa Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah sebaik-baik rasul, Islam adalah sebaik-baik agama, bangsa Arab adalah sebaik-baik umat, bahasa Arab merupakan sebaik-baik bahasa dan selalu bersegera untuk memahaminya, merupakan bagian dari agama ini; karena bahasa Arab merupakan alat untuk mengetahui ilmu, kunci dalam membuka kepemahaman terhadap agama dan sebab untuk memperbaiki kehidupan dunia dan tempat kembali (akhirat)..”[5]

Inilah salah seorang imam kita yang mulia al-Imam asy-Syafi’iy –semoga Allah merahmatinya- yang mengatakan: “Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sejauh kemampuannya, sehingga ia dapat bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar melainkan Allah, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dengan bahasa tersebut ia membaca kitab Allah, mengucapkan dzikir yang diwajibkan kepadanya berupa takbir, mengucapkan ucapan tasbih yang diperintahkan dan tasyahhud, serta selainnya. Apa saja yang bertambah berupa ilmu tentang bahasa Arab, yang Allah telah menjadikan bahasa tersebut sebagai bahasa penutupnya para nabi-Nya, Dia turunkan akhir kitab-Nya menggunakan bahasa tersebut, maka itu baik baginya; sebagaimana wajib baginya untuk mempelajari shalat dan dzikir-dzikir yang ada di dalamnya, mendatangi Baitullah dan hal-hal yang diperintahkan untuk dilakukan, menghadap kepada sesuatu yang diarahkan kepadanya. Maka bahasa Arab merupakan sesuatu yang mengikuti pada perkara yang diwajibkan atasnya dan perkara yang disukai bukan sesuatu yang diikuti..”[6]

Lihatlah bagaimana al-Imam asy-Syafi’i –semoga Allah merahmatinya- mengarahkan seorang muslim untuk mempelajari bahasa Arab sejauh kemampuannya, beliau juga mengisyaratkan bahwa tidaklah bertambah salah satu dari ilmu bahasa Arab pada seseorang melainkan itulah kebaikan baginya di dunia dan akhirat.


Karena bahasa Arab merupakan bahasa penutup kenabian, sehingga dikatakan oleh Abu Manshur ats-Tsa’alibiy: “Barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala niscaya ia juga mencintai Rasul-Nya Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Barangsiapa mencintai Rasul-Nya yang berasal dari negeri Arab niscaya ia mencintai bangsa Arab. Barangsiapa yang mencintai bangsa Arab niscaya ia mencintai bahasa Arab; yang dengan bahasa tersebut turunlah sebaik-baik kitab yang paling utama  kepada orang-orang ajam (non Arab) dan Arab. Barangsiapa yang mencintai bahasa Arab niscaya ia memfokuskan perhatiannya, terus-menerus mempelajarinya dan memusatkan perhatiannya kepada bahasa tersebut.”[4] Beliau melanjutkan: “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah kepada Islam, maka akan dilapangkan dadanya kepada keimanan, diberikan sebaik-baik rahasia tersimpan yang ada padanya. Ia juga yakin bahwa Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah sebaik-baik rasul, Islam adalah sebaik-baik agama, bangsa Arab adalah sebaik-baik umat, bahasa Arab merupakan sebaik-baik bahasa dan selalu bersegera untuk memahaminya, merupakan bagian dari agama ini; karena bahasa Arab merupakan alat untuk mengetahui ilmu, kunci dalam membuka kepemahaman terhadap agama dan sebab untuk memperbaiki kehidupan dunia dan tempat kembali (akhirat)..”[5]

Inilah salah seorang imam kita yang mulia al-Imam asy-Syafi’iy –semoga Allah merahmatinya- yang mengatakan: “Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sejauh kemampuannya, sehingga ia dapat bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar melainkan Allah, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dengan bahasa tersebut ia membaca kitab Allah, mengucapkan dzikir yang diwajibkan kepadanya berupa takbir, mengucapkan ucapan tasbih yang diperintahkan dan tasyahhud, serta selainnya. Apa saja yang bertambah berupa ilmu tentang bahasa Arab, yang Allah telah menjadikan bahasa tersebut sebagai bahasa penutupnya para nabi-Nya, Dia turunkan akhir kitab-Nya menggunakan bahasa tersebut, maka itu baik baginya; sebagaimana wajib baginya untuk mempelajari shalat dan dzikir-dzikir yang ada di dalamnya, mendatangi Baitullah dan hal-hal yang diperintahkan untuk dilakukan, menghadap kepada sesuatu yang diarahkan kepadanya. Maka bahasa Arab merupakan sesuatu yang mengikuti pada perkara yang diwajibkan atasnya dan perkara yang disukai bukan sesuatu yang diikuti..”[6]

Lihatlah bagaimana al-Imam asy-Syafi’i –semoga Allah merahmatinya- mengarahkan seorang muslim untuk mempelajari bahasa Arab sejauh kemampuannya, beliau juga mengisyaratkan bahwa tidaklah bertambah salah satu dari ilmu bahasa Arab pada seseorang melainkan itulah kebaikan baginya di dunia dan akhirat.

Karena termasuk kesempurnaan ibadah shalat adalah dengan khusyuk dan memahami apa yang dibacanya, namun hal ini menjadi sulit untuk direalisasikan seseorang, kecuali dengan adanya kemampuan berbahasa Arab. Ketika seseorang memahami arti dan maksud ayat yang dibacanya memungkinkan ia untuk mengulang-ulang ayat tersebut guna lebih meresapinya dan memperkuat perasaannya. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah berdiri shalat malam semalaman hanya membaca satu ayat yang diulang-ulangnya hingga pagi menjelang, yaitu firman Allah:

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

‘Jika Engkau menyiksa mereka, maka sungguh mereka adalah hamba-hamba-Mu. Namun jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.’” (Q.S. Al-Maidah: 118).

Seseorang yang memahami makna ayat yang dibaca, tentunya akan mungkin berinteraksi langsung dengan ayat tersebut. Yaitu dengan bertasbih ketika melewati ayat tasbih, berdoa ketika melewati ayat yang mengandung permintaan, berta’awwudz (memohon perlindungan) ketika  melewati ayat yang mengandung perlindungan, memohon Surga ketika melewati ayat tentang Surga dan berlindung dari Neraka ketika melewati ayat yang membicarakan tentang Neraka dan kedahsyatan siksannya.

Imam Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan dari Hudzaifah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Suatu malam aku shalat bermakmum kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Beliau membaca Al-Qur`an dalam shalatnya dengan perlahan (tidak tergesa-gesa). Apabila beliau sampai pada ayat yang mengandung tasbih, beliau bertasbih. Apabila sampai pada ayat yang mengandung permintaan, beliau meminta (berdoa). Dan apabila sampai pada ayat yang mengandung perlindungan, beliau pun berta’awwudz (memohon perlindungan).”[7]

Sebagian ulama salaf juga membaca ayat dengan diulang-ulang karena terkesan dengan makna dan kandungannya. Hal ini tidak lain karena mereka memahami apa yang mereka baca. Qatadah bin an-Nu’man (seorang sahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-), mengerjakan Qiyamul lail tanpa membaca surat apapun, kecuali surat Al-Ikhlash yang dibacanya berulang-ulang.[8]

Inilah Sa’id bin Ubay ath-Tha`iy telah meriwayatkan sebuah atsar, ia pernah mendengar Sa’id bin Jubair mengimami shalat pada bulan Ramadhan. Pada shalat tersebut, Sa’id hanya membaca ayat berikut ini secara berulang-ulang.

فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ إِذِ الْأَغْلَالُ فِيْ أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلَاسِلُ يُسْبَحُوْنَ فِيْ الْحَمِيْمِ ثُمَّ فِيْ النَّارِ يُسْجَرُوْنَ

“Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api.” (Q.S. Al-Mukmin: 70-72). Al-Qasim telah meriwayatkan bahwa ia pernah melihat Sa’id bin Jubair mengerjakan Qiyamul lail dengan hanya membaca ayat,

وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ إِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

“Dan peliharalah dirimu dari (adzab yang terjadi pada hari) yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakan, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (Q.S. Al-Baqarah: 281).

Dan beliau terus mengulang-ulang bacaan ayat ini hingga dua puluh kali lebih. Seorang laki-laki dari Bani Qais yang dikenal dengan Abu Abdillah telah meriwayatkan; “Pada suatu malam kami pernah menginap di rumah al-Hasan (al-Bashriy), maka di tengah malam ia bangun dan shalat. Dan ternyata yang dibacanya hanyalah ayat berikut secara berulang-ulang hingga waktu sahur, yaitu firman Allah:

وَأَتَآكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوْهُ وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya sungguh kamu tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.S. Ibrahim: 34).”

Pada pagi harinya kami bertanya: “Wahai Abu Sa’id, mengapa engkau tidak melampaui ayat ini dalam bacaan shalatmu sepanjang malam?” al-Hasan menjawab: “Aku melihat ayat ini mengandung pelajaran yang mendalam. Karena tidaklah aku menengadahkan pandangan mataku dan tidak pula menundukkannya, melainkan pasti melihat nikmat Allah. Sedangkan nikmat-nikmat Allah yang belum diketahui masih sangat banyak.”[9]

Kita ketahui bahwa meragamkan bacaan surat, ayat, dzikir, dan do’a dalam shalat bisa membantu menghadirkan kekhusyukan. Namun, kekhusyukan ini tidak akan diperoleh kecuali bagi orang yang mengetahui maknanya dan memahami kandungannya, sehingga ketika ia membacanya seolah dia sendiri yang bermunajat dan meminta kepada Allah secara langsung. Berikut ini kekhusyukan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam shalatnya sehingga tumbuh rasa takutnya kepada Allah sampai-sampai air mata beliau tertumpah membasahi bumi.

Diriwayatkan dari ‘Atha` -semoga Allah merahmatinya-, ia dan ‘Ubaid bin ‘Umair –semoga Allah merahmati keduanya- pernah datang menemui ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya-. Kemudian ‘Ubaid berkata: “Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkan yang pernah Anda lihat dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam–?” ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- menangis lalu bercerita: “Pada suatu malam Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bangun, lalu berkata, “Hai ‘Aisyah biarkan aku menyembah Rabbku malam ini, sesungguhnya aku suka dekat denganmu dan aku menyukai apa yang engkau sukai.”” ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- melanjutkan kisahnya; “Sesudah itu beliau bangkit dan berwudhu’, lalu berdiri untuk shalatnya. Beliau terus-menerus menangis dalam shalatnya sehingga pangkuannya basah, dan terus menangis hingga tanahnya basah. Setelah itu, Bilal datang untuk memberitahukan akan masuknya waktu Shubuh. Tetapi, setelah Bilal melihat beliau menangis, maka ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, Anda menangis, padahal Allah sudah mengampuni semua dosamu yang terdahulu dan yang kemudian?’ Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab;

أَفَلاَ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا، لَقَدْ نَزَلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ آيَةٌ، وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهَا وَلَمْ يَتَفَكَّرْ فِيْهَا (إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ. . . . الآية كُلُّهَا

“Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur? Sesungguhnya malam ini telah diturunkan kepadaku beberapa ayat. Celakalah bagi orang yang membacanya namun tidak memikirkan makna yang terkandung di dalamnya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi…” (QS. Al-Baqarah: 164) seluruhnya.”[10]

Mengetahui dan memahami makna apa yang dibaca di dalam shalat menjadi sarana wajib untuk bisa merenungkan dan mentadabburi setiap gerakan dan dzikir-dzikir dalam shalat. Dari perenungan dan tadabbur yang mendalam ini akan memunculkan sentuhan jiwa sehingga matapun akan bisa menangis. Allah Ta’ala berfirman tentang Ibadurrahman,

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآَيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (Q.S Al-Furqan 73).

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya ash-Shalah, pernah menyatakan: “Ada satu hal ajaib yang dapat diperoleh oleh orang yang merenungi makna-makna Al-Qur’an. Yaitu keajaiban-keajaiban Asma (nama-nama) dan Sifat Allah. Itu terjadi, tatkala orang tadi menuangkan segala curahan iman dalam hatinya, sehingga ia dapat memahami bahwa setiap Asma dan Sifat Allah itu memiliki tempat (bukan dibaca) di setiap gerakan shalat. Artinya bersesuaian. Tatkala ia tegak berdiri, ia dapat menyadari maha terjaganya Allah, dan apabila ia bertakbir, ia ingat akan keagungan Allah.”

Sekali lagi terlintas dalam benak kita saat ini sebuah tanda tanya besar, apakah mungkin itu semua dapat kita rasakan tanpa kita mengetahui dan memahami terlebih dahulu bahasa Arab, dengan kata lain kita tidak memiliki kemampuan bahasa Arab. Jawabannya tentu saja, tidak mungkin. Karena bagaimana mungkin kita dapat membuka sebuah pintu dan memasuki sebuah tempat tanpa kita memiliki anak kunci untuk membukanya? Bagaimana mungkin bagi kita untuk memahami Al-Qur`an, hadits-hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan ucapan para ulama Islam tanpa kita menguasai bahasa yang dipakai? Apakah kita terus menerus bergantung kepada terjemahan dalam mengetahui arti dalam ayat Al-Qur`an dan selainnya? Padahal biasanya terjemahan tidak tepat sempurna karena diiringi dengan tambahan dan kekurangan.

Wahai saudaraku, “Belajarlah bahasa Arab..” Demikianlah nasehat syaikh Sa’ad asy-Syatsri –semoga Allah menjaganya- kepada seorang pemilik hotel yang merupakan keturunan Arab akan tetapi –Qadarullah- hanya bisa sedikit-sedikit berbahasa Arab. Syaikh berkata: “Memahami Al-Qur`an butuh bahasa Arab. Terkadang Al-Qur`an membuatmu menangis, terkadang Al-Qur`an seakan-akan menampar wajahmu mengingatkan kesalahanmu dari kelalaian dan kesalahan, terkadang Al-Qur`an membangunkanmu untuk mengingatkanmu janji pertemuan yang sangat penting. Bukankah kita senang jika ada orang yang mengingatkan kita tentang janji pertemuan yang sangat penting ?? Akan tetapi semua itu tidak bisa dihayati dengan baik jika kamu tidak bisa bahasa Arab dan selalu bergantung dengan terjemahan.. Karena biasanya terjemahan tidak tepat sempurna lantaran diiringi dengan penambahan dan pengurangan. Beda antara yang memahami secara langsung dengan yang memahaminya melalui perantara..”

Oleh karena itu, mulai saat ini persiapkan diri kita dan tambah kembali semangat kita untuk terus mempelajari bahasa Arab, dengan niat agar kita dapat memahami makna-makna Al-Qur`an dan kandungannya, serta selainnya yang menggunakan bahasa Arab. Dan jangan pernah menyerah dalam mempelajarinya, meskipun kita menemui kesulitan dalam memahaminya, teruslah berdoa kepada Dzat yang telah mengajarkan Adam dan Ibrahim agar kiranya Dia mengajarkan kepada kita dan memahamkan bahasa Al-Qur`an yang mulia ini. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wad’iy –semoga Allah merahmati beliau- pernah menasehati murid-muridnya dengan berkata:

وَأَعْدَاءُ الْإِسْلَامِ يَنْفُرُوْنَ عَنِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يَسْتَطِيْعُوْ أَنْ يُوْرِدُوْا الشُّبُهَاتِ عَلَى الشَّبَابِ الْمُسْلِمِ، وَيَطْعَنُوْا فِيْ الدِّيْنِ بِوَاسِطَةِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ، فَلَا يَسْتَطِيْعُ حِلَّهَا.

“Musuh-musuh Islam mereka beralih kepada bahasa Arab dikarenakan (anggapan mereka) bahwa mereka sanggup untuk membawakan berbagai kerancuan kepada para pemuda muslim, mereka mencela agama ini dengan perantaraan bahasa Arab, namun mereka tidak akan sanggup untuk merealisasikannya.

قَالَ بَعْضُ الْمُلَاحِدَةِ: الْقُرْآنُ هَذَا لَيْسَ مِنْ عِنْدِ اللهِ، لِأَنَّهُ يَنْسِبُ الشَّكَ إِلَى اللهِ فَقَالَ: ﴿وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَى مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيْدُوْنَ﴾، وَمَا دَرَى الْمِسْكِيْنُ أَنَّ عُلَمَاؤُنَا –رَحِمَهُمُ اللهُ- قَدْ تَفَطَّنُوْا لِهَذَا، وَوَجَدُوْا لَهُ مُحْمَلًا فِيْ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ، فَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ جَرِيْرٍ –رَحِمَهُ اللهُ- فِيْ تَفْسِيْرِهِ: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ: (أَوْ) بِمَعْنَى (بَلْ). وَقَالَ الشَّوْكَانِيْ –رَحِمَهُ اللهُ- فِي فَتْحِ الْقَدِيْرِ: وَ(أَوْ) فِيْ ﴿أَوْ يَزِيْدُوْنَ﴾، قِيْلَ هِيَ بِمَعْنَى (الْوَاوُ)، وَالْمَعْنَى: وَيَزِيْدُوْنَ، وَقَالَ الْفَرَّاءُ: (أَوْ) هَاهُنَا بِمَعْنَى (بَلْ)، وَهُوَ قَوْلُ مُقَاتِلٌ وَالْكَلْبِيْ، وَقَالَ الْمُبْرَدُ وَالزَّجَّاجُ وَالْأَخْفَشُ: (أَوْ) هُنَا عَلَى أَصْلِهِ، وَالْمَعْنَى (أَوْ يَزِيْدُوْنَ عَلَى تَقْدِيْرِ كَمْ إِذَا رَآهُمُ الرَّائِيْ. اهىــ.

Sebagian orang-orang ateis mengatakan: “Al-Qur`an ini bukanlah dari sisi Allah, karena Al-Qur`an ini menisbatkan keraguan kepada Allah, Allah berfirman (yang artinya): ‘Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.’ (Q.S. Ash-Shaffat: 147). Alangkah sempitnya orang-orang ini bahwa ulama kami –semoga Allah merahmati mereka- sungguh mereka telah memahami ini, mereka mendapati pada ayat tersebut kemungkinan lain dalam bahasa Arab. Ibnu Jarir –semoga Allah merahmatinya- menyebutkan dalam tafsirnya dari Ibnu ‘Abbas bahwa “atau” di sini bermakna “bahkan”. Asy-Syaukani –semoga Allah merahmatinya- mengatakan dalam Fath al-Qadir: “(أَوْ) dalam firman Allah ﴿ أَوْ يَزِيْدُوْنَ ﴾, dikatakan bermakna (الْوَاوُ) sehingga maknanya adalah ‘..dan lebih’. Al-Farra` mengatakan: bahwa “atau” di sini bermakna “bahkan” ini merupakan pendapat Muqatil dan al-Kalbiy, al-Mubrad, az-Zajjaj dan al-Akhfasy mengatakan bahwa (أَوْ) di sini sesuai asalnya, sehingga maknanya adalah ‘atau lebih’ sesuai perkiraan berapa banyaknya ketika orang yang melihat itu melihat mereka.’” Selesai.[11]

Maka bagaimana mungkin kita dapat menepis syubhat musuh-musuh Islam yang mahir berbahasa Arab jika kita sendiri tidak menguasai bahasa Arab? Renungilah.. Mudah-mudahan kajian yang singkat ini bermanfaat bagi penyusun, para pembaca dan kaum muslimin seluruhnya.

[1] Taysiir Kariim ar-Rahmaan, hal. 876.
[2] Taysiir Kariim ar-Rahmaan, hal. 898
[3] Iqtidha` ash-Shiraath al-Mustaqiim, karya Ibnu Taimiyyah (1/462).
[4] Fiqh al-Lughah, Abu Manshur ats-Tsa’alibiy. Hal. 21
[5] Idem.
[6] Ar-Risalah, tahqiq Ahmad Syakir, hal. 41
[7]  HR. Muslim (no. 772).
[8]  Atsar riwayat al-Bukhari, lihat al-Fath (9/59), Ahmad dalam Musnad–nya (3/43).
[9] At-Tadzkirah, al-Imam al-Qurthubiy. Hal. 125.
[10] HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Asy-Syaikh al-Albaniy dalam ash-Shahihah (no. 68) menyatakan sanad hadits ini Jayyid (baik).
[11] Al-Hulal adz-Dzahabiyyah ‘Alaa Tuhfah as-Saniyyah, hal. 7.

22 Memahami ilmu agama langsung dari sumber aslinya

Mempermudah kita untuk memahami sumber utama dalam agama kita, yaitu Al-Quran karena Al-Quran diturunkan dalam bahasa arab.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Dan kami telah menurunkan Al-Quran yang berbahasa Arab agar kalian memahaminya”. (QS. Yusuf: 2)

Juga mempermudah kita memahami sumber-sumber ilmu Islam yang lain, seperti hadits serta kitab-kitab ulama yang tak selalu kita dapati terjemahannya.

Di samping itu, ketika kita membaca sumber-sumber tersebut dalam bahasa aslinya, maka seolah olah kita sedang berbicara langsung dengan mereka. Berbeda rasanya jika kita membaca terjemahan, karena yang kita baca adalah kata-kata penterjemah dan kita akan kehilangan “rasa” atau dzauq dari sumber aslinya

Buku-buku berbahasa Arab memang telah banyak diterjemahkan. Namun, bukankah lebih baik dan lebih orisinil jika langsung merujuk ke kitab aslinya dalam Bahasa Arab. Semisal buku-buku tentang tafsir, fikih, sirah, dll.

23. Jangan salah, Bahasa Arab juga sebagai bahasa internasional

Bahasa Arab digunakan oleh lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia dan menjadi bahasa resmi di 24 negara. Dengan belajar Bahasa Arab, Anda dapat berkomunikasi dengan berbagai orang di seluruh dunia.

24. Peluang kerja Anda bisa lebih luas

Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang menguasai bahasa lain selain kesehariannya lebih dibutuhkan oleh sebuah perusahaan dan memliki prospek kerja.

25. Bisa menghayati bacaan Al-Quran ketika mendengarnya di mana saja, kapan saja.

Sering kali kita mendengarkan murattal yang diputar di masjid dengan pengeras suara, mendengarkan orang yang kebetulan sedang tilawah (membaca) Al-Quran, atau ketika shalat di masjid saat waktu bacaan di-jahr-kan (terutama saat tarawih di bulan Ramadhan). Beruntung sekali jika kita bisa menjadi orang-orang yang memahami artinya, hati kita menjadi “hidup” lalu kita pun ingat kepada-Nya.

26. Berpengaruh positif terhadap akal akhlak dan agama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ”Merupakan metode paling baik adalah membiasakan berkomunikasi dengan bahasa Arab hingga anak kecil sekalipun dilatih berbahasa arab di rumah dan di sekolah, hingga tampaklah syiar Islam dan kaum muslimin. Hal ini mempermudah kaum muslimin untuk memahami Al-Quran dan As-Sunnah serta perkataan para salafush shalih. Dan ketahuilah, membiasakan berbahasa Arab akan sangat berpengaruh positif terhadap akal, akhlak, dan agama.” (Iqtidha’ Sirathil Mustaqim, Ibnu Taimiyyah)

Seorang yang pandai bahasa Arab cenderung senang untuk membaca dan menelaah berbagai kitab para ulama sehingga akan tumbuh rasa cinta untuk menghafal Al-Quran serta hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, itu akan memperbaiki kualitas akal, akhlak, dan agamanya.

27. Kita telah menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat.

Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pelajarilah bahasa Arab karena ia adalah bagian dari agama kalian.”

28. Sebagai bekal untuk dirinya sendiri yaitu agar senantiasa belajar dan memperbaiki amal ibadah, juga sebagai bekal untuk mengajarkannya kepada anak-anaknya maupun kepada khalayak luas (dakwah).

Bentuk-bentuk dakwah ini amat beragam jenisnya. Bisa dalam bentuk menulis artikel ilmiah untuk umat, atau menjadi pengajar, menjadi penerjemah, membantu suaminya berdakwah, dan lain sebagainya, sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing individu.


Tulisan ini akan terus diperbahauri insya Allah.

Demikian 101 Alasan Mengapa Anda Harus Belajar Bahasa Arab Sekarang Juga, Silakan bergabung di Kelas Belajar Bahasa Arab via WhatsApp bersama kami sini.

Sampai jumpai di artikel berikutnya.

COMMENTS

Buku Panduan Bahasa Arab Al-Arabiyah Baina Yadaik Jilid 1 Bagian 1
Nama

2018,1,Banda Aceh,1,Belajar Bahasa Arab,14,Belajar Menghafal Al-Quran,5,Buku Panduan Bahasa Arab,7,Informasi,5,Kursus Bahasa Arab,1,Les Bahasa Arab,1,Pelatihan Bahasa Arab,1,
ltr
item
Arabic Quantum Learning - Kursus Bahasa Arab Online Untuk Pemula: 101 Alasan Belajar Bahasa Arab
101 Alasan Belajar Bahasa Arab
https://1.bp.blogspot.com/-RGH39Oza-zw/WzI5cvmm39I/AAAAAAAABbw/fbSGdHbQDHwiIDKGjBBA4_wZ7YnDM89UACLcBGAs/s640/101%2BAlasan%2BBelajar%2BBahasa%2BArab.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-RGH39Oza-zw/WzI5cvmm39I/AAAAAAAABbw/fbSGdHbQDHwiIDKGjBBA4_wZ7YnDM89UACLcBGAs/s72-c/101%2BAlasan%2BBelajar%2BBahasa%2BArab.jpg
Arabic Quantum Learning - Kursus Bahasa Arab Online Untuk Pemula
https://www.arabicquantum.com/2018/06/bahasa-arab-itu-penting.html
https://www.arabicquantum.com/
https://www.arabicquantum.com/
https://www.arabicquantum.com/2018/06/bahasa-arab-itu-penting.html
true
7796415163076672810
UTF-8
Muat semua artikel Tidak menemukan artikel apapun TAMPILKAN SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda Halaman Artikel Tampilkan Semua DIREKOMENDASIKAN UNTUK ANDA KATEGORI ARSIP CARI ARTIKEL SEMUA ARTIKEL Tidak menemukan artikel apapun yang sesuai dengan permintaan anda Kembali ke Beranda Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow INI ADALAH KONTEN PREMIUM Bagikan untuk membukanya Salin semua Kode Pilih semua Kode Semua Kode sudah disalin ke clipboard Anda Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy